Belajar menerima kritik

Tidak semua orang bisa menerima kritik dengan baik. Dan ini kurasakan sendiri.

Big boss baru melakukan kunjungan tiga hari untuk monitor kondisi sales di Indonesia, ujung-ujungnya dia kecewa lihat hasil sales yang masih rendah. Di hari pertama aku ketemu dia, aku jemput dia untuk meeting dengan distributor. Di mobil dia sudah wawancara mengenai apa saja kegiatanku sehari-hari. Aku jelaskan apa adanya, blab la bla. Tentunya apa yang aku kerjakan sesuai dengan panduan dari direct supervisorku (little boss). Ohhh, ternyata big boss kurang senang. Katanya semua yang aku kerjakan itu tidak tepat, tidak agresif. Tidak bisa hanya mengikuti ke mana distributor pergi. Lha wong, itu aku lakukan karena aku ingin melihat cara kerja mereka seperti apa, mana yang bisa di-improve, lalu customer yang kurang puas dengan peralatan kami perlu aku kunjungi juga. Tapi kaya’nya itu semua tidak berarti deh….. Katanya, distributor baru akan menghargai kita kalau kita kasih sesuatu benefit bagi mereka.

Parahnya lagi, saat meeting, pimpinan distributor kami mengkritik aku yang katanya cuma kejar PO dan kirim-kirim e-mail, ikut ke mana staf dia pergi. Hmmm, bukannya tanggung jawabku itu emang kejar sales? Lagian aku ikut staf dia pergi ke sana ke mari, karena mereka menghadapi masalah di lapangan. Sadar gak sih dia?

Kaya’nya dia kurang suka style pendekatanku, sehingga aku dikritik abis di depan big boss. Bisa kebayang deh gimana rasanya jadi big boss ku, anak buahnya dikritik sama distributor begitu. Anyway…. Aku sih sudah dengar karakternya si pimpinan. Aku sudah menjelaskan alasan apa saja yang aku sudah kerjakan, tetapi tidak mempan. Big boss ikut memojokkan juga. So, tidak ada gunanya membela diri dan bersikap defensif. Yang penting membuka pikiran dan hati untuk input-input positif supaya bisa memperoleh hasil terbaik. Toh ini demi performance sales Indonesia, walau sebenarnya aku merasa bukan jadi diri sendiri.

Lega akhirnya karena komunikasi aku dengan distributor bisa lebih terbuka. Aku jadi tahu dia maunya apa, karena situasi yang sedang dia alami. Malamnya aku dapat SMS dari little boss yang sedang training. Aku cerita kalau sorenya abis meeting, dia tanya hasilnya. Aku cerita ekspektasi dan komplain yang aku terima. Dia bilang lihat sisi positifnya lalu mulailah buat rencana.

Keesokan harinya, kami juga ada meeting internal. Di forum itu pun big boss menekankan lagi kekecewaannya. Mulailah dia berikan tugas-tugas. Oh ya, memang ada satu yang kurang aku lakukan, yaitu membuat rencana. Biasanya aku persiapkan business plan sebagai panduan, tetapi aku belum lakukan hal ini makanya bingung kaya’ orang tersasar. Tidak tahu mau ke mana.

Kejadian ini menambah pengalamanku untuk menjadi lebih dewasa dalam menerima kritik.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »