Tentang Shanghai (Bag.3)
Menyambung cerita di Shanghai,
6. Pakaian & Fashion
Tahukah baju apa yang aku bawa ke Shanghai? 7 baju kerja dari bahan katun, 3 celana kerja, beberapa kaus lengan panjang untuk jalan-jalan/santai, celana jeans, kaus lengan pendek serta baju lainnya, plus 2 sweater dan 1 jacket panjang (overcoat), tak lupa celana long john dan underwear. Koperku ukuran medium, jadi tidak muat banyak kalau aku bawa baju-baju tebalku, apalagi aku pergi hampir sebulan.
Sepatu kerja bawa satu pasang, sepatu olah raga sepasang. Tidak bisa bawa sandal karena udara kan dingin. Naasnya, di hari pertama aku training, sepatuku jebol. Apa sebabnya? Sepatu itu dulu merupakan sepatu ternyaman, lalu karena sudah mulai tidak nyaman lagi, sepatu aku simpan saja. Tiga tahun kemudian, barulah aku buka dan pakai untuk ke Shanghai, dengan pikiran aku tidak perlu membawa sepatu berhak. Aku pakai sepatu itu saat berangkat. Ternyata karena kelamaan disimpan, karet solnya mengeras dan mengering, sampai akhirnya jebol!
Yang bikin aku agak stress adalah apa di China ada sepatu ukuranku, 42? Aku minta tolong salah satu kolegaku peserta training dari Shanghai menemaniku mencari sepatu baru. Susahnya cari ukuranku dan model yang oke. Akhirnya pilihan jatuh pada sepatu tanpa hak warna hitam dengan aksen pita, harga RMB 100. Jari keduaku agak menekuk, menandakan sepatu masih kurang besar. Selama 4 minggu aku harus pakai sepatu itu, walhasil, jari kaki keduaku itu kukunya menghitam karena darah mengalir sedikit ke area itu.
Aku benar-benar salah kostum di perjalanan ini. Sudah salah bahan baju, sepatu pun tidak mantap. Bikin perasaan tidak nyaman dan gak pede! Aku sempatkan beli 3 baju knitting yang sesuai dengan cuaca di Tong Yang Market. Aku tidak mau banyak belanja, karena selain harga mahal, model baju saat itu pastinya winter fashion. Walau sebenarnya aku tertarik juga untuk beli ini itu: sweater lah, jaket knit lah, syal lah, topi wool, sarung tangan wool. Bayangkan, kapan saat yang tepat memakai pakaian jenis itu di Jakarta?
Untuk penggemar fashion, cewek-cewek Shanghai modis-modis, bahkan walau udara sedang dingin. Mata enak melihat model baju yang cantik-cantik. Beberapa brand terkenal di sana selain Giordano adalah Uniqlo dan H&M. Jangan ditanya harganya. Untuk beberapa jenis item, seperti jaket, harganya bisa minimal RMB 1000.
Oh ya, aku agak kaget waktu tahu teman sekamarku kopernya gede banget plus satu koper kecil yang isinya sepatu melulu. Berat kopernya itu overweight, 23 KG. Tak pernah aku lihat dia pakai setelan baju yang sama selama kami training empat minggu, kecuali baju untuk ngamar/tidur. Sepatu yang dia bawa ada 6 pasang. Ternyata bosku pun sama. Walah, walah.
7. Tempat belanja dan jalan-jalan
Yu Yuen Garden, di sini bisa beli pernak pernik suvenir khas Shanghai. Kalau mau shopping, harganya ditawar ya. Ada restoran juga kalau kamu lagi lapar.
Nan Jing Road, ini seperti Orchard Road-nya Singapore. Ini diambil di salah satu pojok Nan Jing Road.
Pearl of Orient, ini landmark Shanghai. Seperti Monas-nya Jakarta
The Bund, ini nama lokasi di sekitar sungai. Letaknya tidak jauh dari Super Brand Mall. Jalan kaki 10 menit aja.
Super Brand Mall, Pudong. Ini fotoku di lobi, depan pohon natalĀ yang disponsori Uniqlo, salah satu merk baju.
Tong Yang Market, Jinhui Road, tak jauh dari hotelku, jalan kaki 15 menit. Kamu bisa beli fake designer bags di sini. Aku beli baju hangat dan troli laptop di sini. Yang penting harus bisa menawar harga.
Hong Qiao area. Di sini juga ada shopping center seperti Tong Yang Market, tapi harga lebih mahal, mungkin karena banyak orang bule di situ.
Hang Zhou, sebuah kota yang terletak 1 jam dari Shanghai jika kita naik kereta api, 2 jam kalau naik mobil. Di situ ada danau di tengah kota. Tadinya rombongan grup ASEAN mau ke Hang Zhou dengan menyewa mobil, total biaya kendaraan dan hotel sekitar RMB 2,300. Berhubung kami mesti hemat tenaga dan waktu untuk ujian, jadinya aku ke sana di akhir pekan terakhir dengan Lisa naik kereta api. Harga tiketnya RMB 80 sekali jalan. Wah, stasiun KA di Shanghai sangat modern, seperti bandar udara. Keretanya pun sangat bagus.
8. Harga
Bosku ternyata doyan belanja, sayangnya dia shopping di tempat mahal-mahal. Bagiku sih anggap aja pengalaman, buat cuci mata, at least gak buta barang-barang bermerk. Kalau fungsinya sama, kenapa mesti beli yang harganya mahal? Anyway….. Shanghai itu kata temanku merupakan top five kota di dunia yang biaya hidupnya tinggi! Wow… Bisa dibayangkan kan harga-harga di sana? Contohnya, untuk hand & body lotion Vaseline ukuran besar itu harganya sekitar Rp 55 ribuan.










Celana murah
Thanks for posting this. Saya suka membaca posting ini dan seperti bagaimana Anda menulis.
March 4th, 2009 at 4:59 am