Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Tentang Shanghai (Bag. 2)

December 14th, 2008 - 9:19 pm § in Experience at work, Miscellaneous

Ini bagian kedua dari ceritaku tentang Shanghai.

4. Makanan

Makanan tidak menjadi masalahku, mengingat aku tukang makan, hehehe….. Apalagi di depan hotel ada warung makan muslim. Ada macam-macam nasi goreng, tumis sayuran, mie goreng dan mie rebus. Untung menunya ada fotonya, jadi tinggal tunjuk mau yang mana, karena mereka tidak mengerti Bahasa Inggris. Murah pula, harga per porsi berkisar RMB 4-25. Lucunya, mereka tidak menyediakan minuman, jadi kita mesti bawa minum sendiri atau beli di toko sebelah.

Selain itu, di tempat training aku minta makanan vegetarian aja. Lebih aman kan? Cuma, setelah satu minggu, aku merasa bosan dengan lunch box ku itu. Dalam lunch box, ada nasi, kacang goreng, lalu tiga menu sayuran. Ternyata kacang goreng di restoran di sana disajikan sebagai snack sambil menunggu makanan disajikan. Panitia juga menyediakan makanan India dan vegetarian pizza untuk teman-teman dari India. Untuk menu lain, mereka memesan mie Jepang, burger Subway, bergantian setiap hari.

Untuk makan malam, kami harus cari sendiri. Di dekat hotel ada restoran Korea, ada Turkey Rice, ada restoran steamboat (semacam suki), restoran Jepang, restoran Italia dll.

Ada restoran Turkey Rice dekat hotel. Aku pikir merupakan makanan orang Turki, tapi mengapa temanku terus bilang makanannya ada yang tidak halal. Ternyata sesampainya di sana baru aku mengerti, ini adalah restoran yang menyajikan daging ayam kalkun alias Turkey. Di sana menyajikan sayuran juga, ada pula tahu dingin. Yang enak memang Turkey Rice-nya. Itu semacam nasi Hainan lalu di atasnya diberi suwiran daging kalkun dan saus kecap khusus.

Pernah juga mencoba makanan Italia di La Famiglia resto, yang punya orang Korea. Yummy juga makanannya!

Kami mengajak klien kami yang sedang menghadiri acara di tempat training kami makan di daerah dekat hotel. Aku tidak tahu nama restoran itu, tetapi mereka menyajikan makanan ala Shanghai. Kami memesan satu ruangan khusus hanya untuk rombongan kami. Ada appetizer, main course, dan dessert. Yang terkenal di Shanghai adalah cold dishnya.

Makanan yang masih bisa aku ingat adalah tahu dingin, lotus root yang diisi ketan lalu diberi kuah gula jawa kental, lumpia sayur dengan kulit transparan, lalu ada bebek peking, dagingnya digoreng terpisah, ada sup. Makanan penutupnya adalah buah-buahan (semangka, melon, tomat cherry) dan onde-onde pakai wijen isi kacang merah.

Di akhir pekan pertama, atasanku mengajak kami makan siang ke restoran Tang Palace di Super Brand Mall, Pudong, dekat dengan menara Pearl of Orient. Restoran ini menyajikan dimsum ala Hong Kong. Kami ke sini lagi di minggu ketiga untuk makan malam, menu yang dicoba sedikit berbeda. Di sana ada berbagai macam dimsum, burung dara goreng, tim ikan ala thai, tumis brokoli, egg tart, mango pudding, minumnya jasmine atau green tea (ada banyak pilihan teh lainnya).

Kami juga mencoba beberapa tiga restoran yang menyajikan steam boat (suki). Yang pertama ada di daerah dekat hotel, yang kedua ada di pusat kota, di Bailemen Hotel, lantai  20 (namanya Dolar Shop) dekat Nan Jing Road, yang ketiga di Hotel Fortune. Yang unik adalah di Dolar Shop karena kita ada di paling atas gedung. Atapnya dari kaca, jadi kita bisa lihat langit dan suasana kota dari atas gedung. Sayang waktu itu sudah malam dan tertutup kabut karena udara dingin.

Untuk makan steamboat, pancinya ada di tengah meja, atau bisa juga minta pot individu kalau kamu tidak mau gabung dengan yang lain. Kalau aku mesti terpisah karena teman-teman makan daging babi. Kuah supnya ada dua macam. Bisa pilih yang kuah pedas (mengandung cabe Sze Chuan yang bisa bikin lidah baal) atau kuah sayuran bening. Pilihan bahan celupannya adalah irisan daging (sapi, kambing, babi, ikan), seafood (udang, cumi, kerang), sayuran dan jamur. Untuk saus dipping, kamu bisa racik sendiri di bar khusus. Kamu bisa campur dengan minyak wijen, seledri, daun kemangi, kacang halus, sambal, minyak cabai, kecap asin, bawang putih cincang, dll.

Hot Pot

Di Fortune Hotel, satu restoran dibagi dua bagian. Yang pertama bagian untuk steam boat, yang kedua bagian untuk teppanyaki. Untuk steam boatnya, mereka pakai individual hot pot juga. Menunya hampir sama dengan restoran steam boat lainnya. Di lain hari, kami coba set menu teppanyaki dengan harga RMB 98. Di sini, kokinya masak langsung di depan tamu. Saat aku lihat daftar menunya, banyak sekali dalam satu set. Untungnya terdiri dari porsi kecil. Menu dibuka dengan tiga potong sushi. Karena aku lihat ada daging nongol dari sushi, jadi aku cek, ternyata daging babi, jadi punyaku diganti dengan karangan bunga sayuran yang dibungkus rumput laut. Menyusul campuran telur yang dikukus dalam kulit telur, disajikan dengan caviar dan hati angsa. Nyam nyam… Selanjutnya adalah oyster bakar, lalu menu utama adalah steak daging.

Teppanyaki set menu

Saat gathering dinner, kami dibawa ke restoran Jepang di hotel yang seharusnya kami menginap, Warner Inn Hotel. Wahhh….. lezat sekali! Memang makanan pembukanya sushi dan daging ikan mentah lainnya, lalu muncullah ayam goreng tepung, udang panggang mayonnaise, oyster panggang mayonnaise, dan banyak lagi.

Untuk graduation dinner, kami ke restoran di daerah Hong Mei Road. Untuk menuju ruangan kami, cukup berkelok-kelok jalannya dan ada di tingkat tiga. Total biaya RMB 4,000! Cold dish masih ada, yang enak itu kerang masak mentega, udang sungai rebus dimakan dengan saus cuka, ayam goreng spicy.

Pernah saking bosannya kami dengan makanan luar dan rindu makanan tanah air, satu saat bos minta dibuatkan makanan Filipina, diminta melalui rekan Filipina yang ternyata kenal dengan koki hotel, yang juga orang Filipina. Jadilah kami makan ramai-ramai. Sayang aku tidak bisa mencicipi karena ada daging babinya. Lalu minggu berikutnya kami pesan untuk dibuatkan makanan Malaysia. Jadilah dibuatkan rendang daging. Slurp…….

Berhubung kelas mesin isinya lelaki semua, dan beberapa kali mereka dinner di Hooters, kelompok kami pun singgah juga di restoran itu. Hooters itu dari Amrik, pelayannya cewek-cewek seksi yang menggunakan tank top dan hot pants (woo hoo……). Mereka fasih lho berbicara bahasa Inggris. Tamu-tamu yang datang kebanyakan orang asing. Waktu itu tidak sengaja kami lompat pagar dari taman di belakang Super Brand mall di pusat kota, eh ternyata ada Hooters di belakang mall itu. Masuklah kami dan kami pesan chicken wing dan minuman. Padahal saat itu kami baru saja makan es krim Haagendasz yang porsinya cukup besar.

Hooters

Nah, ternyata Hooters punya cabang di Hong Qiao, dekat hotel kami. Malam senin kami makan malam di situ, karena pukul 17-19 makanan didiskon 50%, tidak termasuk minuman. Minimum pembelian sebelum diskon adalah RMB 120. Makanannya kurang enak, hanya chicken wingnya yang mantap.

Di malam terakhir, kami makan malam dengan rekan dari India di restoran Darbar Delhi di Hong Mei Road. Letaknya tak jauh dari restoran tempat graduation dinner. Mantabs makanannya. Ada prata, kari ikan, ayam tandoori, dan beberapa makanan lain yang aku kurang ingat namanya. Terakhir makan es krim Kulfi. Rasanya seperti makan pasta susu. Katanya sih, satu scoop es krim itu mengandung 1 liter susu. Kebayang kan gimana berlemaknya es krim itu?

Indian Restoran

Kalau mau snack berupa roti atau cake, bisa dibeli di Paris Baguette bakery, di seberang hotel Dijon.

5. Cuaca

China memasuki musim dingin. Suhu terdingin saat aku di sana adalah -1 derajat Celsius. Aku ingat sekali saat itu aku, bos, dan teman dari Malaysia pulang massage di Fortune Hotel yang jaraknya 10 menit jalan kaki. Berhubung udara sangat dingin, kami jalan cepat, bahkan sempat lari kecil. Angin dingin menerpa muka, dan dada kami juga sesak karena menghirup udara yang sangat dingin. Dinding hidung terasa perih, menjadi sedikit berair.

Paling tidak tahan kalau udara dingin ditambah dengan angin kencang. Brrrrr….. Di minggu kedua, kami jalan-jalan di Nan Jing Road. Yang merupakan jalan panjang serupa Orchard Road. Saat itu suhu mungkin di bawah 10 derajat Celsius. Untungnya saat malam udara menghangat dan suhu sekitar 12 derajat (ada thermometer raksasa yang nempel di salah satu gedung).

Giant thermometer

Bersambung ya ke bagian III……………



4 Comments Add Yours ↓

  1. 1
  2. 3

    enak nih jalan-jalan ke shang hai.btw yang foto pake baju seksi siapa tuh…?

    souvenir pernikahan

  3. mirnaNo Gravatar #
    4

    @Rahman:
    Alhamdulillah, dikasih rejeki untuk jalan ke sana lewat tugas kantor. Yang baju seksi itu waitress-nya Hooters, restoran amrik yang ada di sana. Emang mereka pada pake seragam seksi.


4 Trackbacks/Pingbacks

  1. Tentang Shanghai (Bag. 1) | WEALTHY MIRNA - Kaya Hati, Ilmu, Materi 20 01 09
  2. Tentang Shanghai (Bag.3) | WEALTHY MIRNA - Kaya Hati, Ilmu, Materi 23 01 09
  3. Hariku bahagia……….. | WEALTHY MIRNA - Kaya Hati, Ilmu, Materi 16 03 09
  4. Merayakan Idul Adha di negeri seberang | WEALTHY MIRNA - Kaya Hati, Ilmu, Materi 03 01 10

Your Comment





Social Buttons by Linksku