Tentang Shanghai (Bag. 1)
Tidak banyak postinganku di sini mengenai training di Shanghai, soalnya untuk cerita mengenai traveling, kavlingnya sudah ada sendiri di “Roaming The World”.
Apa yang ingin aku bagi di sini merupakan ringkasan dari perjalanan ku dan kesanku terhadap Shanghai. Siapa tahu teman-teman ada yang bakal pergi ke sana, ini bisa kasih gambaran lho situasi di sana ![]()
1. Tempat tinggalku
Selama training, kami menginap di Hotel Dijon (baca: ti chen), Min Hang District. Tadinya kami akan ditempatkan di hotel lain yang letaknya cukup dekat dengan tempat training. Katanya sih karena hotel ini ada perubahan kebijakan dalam pembayaran, makanya kita pindah hotel. Lokasinya 15-20 menit dari tempat training. Tiap pagi ada bus yang menjemput kami. Untuk kelas yang aku ikuti, ada 11 orang, sementara untuk kelas mesin ada 9 orang. Setelah kelas selesai, kami mesti naik taksi kembali ke hotel.
Di dalam kamarku, ada dua kamar tidur yang memiliki kamar mandi masing-masing, lalu ada ruang tamu tempat kami belajar bersama.


Distrik ini, walaupun jauh dari pusat kota Shanghai (45-90 menit), tetapi ramai juga, karena ternyata merupakan business area, hotel pun banyak. Bahkan ada bandara lokal (Hong Qiao Airport) tak jauh dari kami. Sementara dari Bandara Shanghai Pudong International, memakan waktu sekitar 1 jam ke hotelku, dengan ongkos RMB 154. Cuma waktu aku pulang, ongkos taksi lebih mahal, RMB 250-an, entah kenapa.
Area di sekitar hotelku sepertinya bisa disebut Little Korea, karena banyak sekali orang Korea Selatan di situ. Di depan hotelku ada kompleks ruko di mana banyak jualan produk dan restoran Korea. Bahkan 5 menit jalan kaki, ada Korea Plaza, aku tidak sempat main ke sana. Lalu di seberangnya ada sekolah untuk anak-anak Korea dan supermarket yang menjual produk Korea. Bahasa yang dicantumkan ada dua pula: Korea dan China.
Layanan hotel kurang bagus, walau interior kamar oke. Misalnya: hotel tidak punya central heater, sehingga untuk kamar kami, kami perlu menggunakan mini portable heater. Cukup repot karena perlu menunggu suhu kamar hangat baru bisa tidur. Tetapi di beberapa lantai, ternyata mereka memiliki central heater. Yang bikin sebel juga adalah setelah dua minggu kami tinggal, kami memperoleh tagihan untuk dicek, dan jika diperlukan deposit kami harus ditambah. Lha wong yang tinggal di situ satu rombongan, dan dibooking atas nama perusahaan, kok takut sekali ditinggal kabur?
Yang aku juga agak heran, cuma staf frontdesk dan managerial level yang bisa berbahasa Inggris. Kalau staf room service dll malah kurang banget ketrampilan berbahasa Inggrisnya. Tanggung banget ya?
2. Lalu Lintas
Di sini, setir kendaraan ada di sebelah kiri. Kamu harus pasang mata dan sangat berhati-hati saat menyeberang jalan, walaupun itu dilakukan di traffic light. Seringkali banyak kendaraan yang nyelonong aja. Ada jalur khusus disediakan untuk motor dan sepeda.
Untuk taksi, aku perhatikan supir taksinya mengenakan jas dan sarung tangan putih (keren….). Cuma cara menyetirnya bisa dibilang mengerikan. Argonya bisa mencetak tanda terima ongkos taksi.
Antara kursi depan dan belakang di beri pembatas fiber, begitu pula antara penumpang di kursi depan dan kursi pak supir.
3. Kelasku
Tempat training ada di area perindustrian. Seperti Pulo Gadung di Jakarta, tapi lebih bagus, tidak kotor tertutup pohon dan debu. Kelasku terdiri dari 5 orang India, 1 Indonesia (aku), 2 dari Malaysia (termasuk bos-ku), 1 dari Korsel, dan 2 dari Filipina. Kami mempelajari alat staple dan laparoskopi. Staple? Bukannya itu salah satu alat kantor? Ya nggak lah….
Di bidang bedah, kami mengenal staple juga. Itu alat untuk menutup jaringan terbuka. Biasanya untuk menutup luka bedah, ahli bedah menjahit jaringan tersebut. Untuk prosedur yang kompleks (misal Billroth II, Whipple, dll) menjahit luka akan memakan waktu berjam-jam. Dengan staple, jaringan ditutup dengan staple, lalu tinggal kita potong untuk memisahkannya dengan jaringan lain. Biasanya jaringan yang terkena kanker.
Kami belajar anatomi dan prosedur pembedahan, lalu belajar alat-alatnya (aplikasi, fitur dan manfaat, kompetisi, dll), lalu kami praktek di animal lab menggunakan babi atau anjing. Selain itu untuk aspek Sales, kami melakukan role play di mana kita harus menemukan solusi masalah dari kasus penjualan yang diberikan.
Sayang, hubungan dengan beberapa teman kelas kurang baik (itu lho, kolega dari India) karena ada satu orang yang jadi biang keroknya. Naasnya, aku satu kelompok dengan dia. Betapa menjengkelkan!
Yang aku rasakan dari training ini adalah komitmen perusahaanku ini dalam memberi edukasi kepada staffnya. Bahkan tempat training ini merupakan pusat belajar untuk para dokter yang menjadi klien kami.
OK, berhubung ceritanya masih panjang, aku sambung di Bagian II ya, biasa….. biar postingannya banyak, kekeke…









