Gara-gara aku menampilkan foto operasi kepala di “10 fakta tentang Mirna Sakina”, banyak juga teman-teman yang tanya soal pekerjaanku dulu, yaitu di salah satu perusahaan distributor peralatan medis.
Jadinya aku dapat inspirasi untuk menuliskan pengalamanku bekerja di bidang ini. Sebenarnya secara singkat, sudah aku tuliskan di halaman About tentang pengalaman kerjaku ini, tapi tidak ada salahnya untuk mengupasnya lebih lanjut.
Latar Belakang Bekerja
Saat itu, sekitar semester kedua 2002, aku sedang menganggur selama beberapa saat. Usaha mencari kerja tetap dilakukan, antara lain lewat Karir.Com dan JobsDB. Pekerjaan apa pun yang aku anggap aku qualified aku lamar. Bahkan jadi “Marketing Executive di perusahaan medical equipment”. Tadinya agak kurang yakin apa aku bisa, soalnya bidang ini kan beda dengan yang lain. Tapi dengan pede, aku tetap lamar. Toh, aku punya orang tua yang dokter. Jadi nanti kalau bingung soal istilah medis, aku bisa tanya mereka.
Wawancara pertama dengan country manager berjalan lancar dan malah seperti ngobrol biasa saja. Saat menunggu diwawancara, aku menunggu di lantai dasar ruko, sambil mengobrol dengan office boy (namanya Mas Ajat). Katanya, staf di situ sering ke luar negeri untuk training. Wow, asik juga nih. Di akhir wawancara, country manager bilang kalau dia suka dengan aku (eitsss, jangan punya pikiran jelek ya).
Wawancara yang kedua dengan CEO (orang Malaysia), yang ketiga dengan country manager lagi karena sudah finalisasi, lalu psikotest. Keseluruhan proses memakan waktu 2-3 bulan. Memang agak lambat. Aku aja sampai telepon kantor itu untuk tanya apa hasil tes sudah keluar dan bagaimana keputusannya mumpung aku belum dapat penawaran dari perusahaan lain. Aku masih kerja di Indonesian Press Review saat akhirnya dapat panggilan lagi untuk tanda tangan surat penunjukan sebagai pegawai, walaupun masih masa percobaan. Masa kerja dimulai tgl. 1 Januari 2003. Kok tanggal merah kerja? Iya, soalnya aku langsung dikirim training ke Singapura untuk principal yang baru, perusahaan dari USA, namanya Boston Scientific. Training berlangsung tiga hari, berlangsung lancar, dan ketemu teman baru.
Pasporku sudah kadaluarsa, jadi sebelum berangkat mesti bikin paspor baru. Sebelnya Sayangnya pemberitahuan itu seminggu sebelum Natal. Wah, apa sempat bikin paspor? Setelah telepon sana sini akhirnya bisa bikin satu hari jadi dengan bantuan “orang dalam”. Untungnya pula, komisi penjualanku sudah keluar. Dengan modal itu aku bikin paspor. Ya, soalnya selama beberapa bulan menganggur, aku pinjam uang ke ibu untuk memenuhi kebutuhanku.
Apa Saja yang Dikerjakan?
Abis training, what’s next? Ada tiga orang Marketing Executive baru yang satu angkatan denganku, mereka tidak punya latar belakang medis sama seperti aku. Berhubung perusahaan ini baru berdiri, dan ternyata bos juga baru di bidang ini, jadi kami pun kerja “meraba-raba”, alias masih buta.
Sudah bingung dengan materi training, tambah bingung pula untuk mulai terjun ke lapangan. Mau mulai dari mana? Mesti ketemu sama siapa di Rumah Sakit? RS mana yang mesti didatangi? Wuahhhh, buta banget deh!
Untuk mendalami bidang ini, aku memerlukan satu tahun untuk terbiasa. Terbiasa dengan produk, terbiasa menghadapi klien yang notabene adalah dokter, terbiasa dengan prosedur dan situasi RS.
So, sebagai Marketing Executive, ini deskripsi pekerjaannya (sori, lagi males translate):
• To update customer on the technologically advanced medical equipment in terms of demonstrating and operation.
• Responsible for achieving sales forecast determined by Management.
• Customer visitation (Indonesia area) and follow up on customer requirements.
• Promoted and created product awareness to customer, e.g.: exhibitions, symposiums, and seminars.
• To have product presentations, make quotations and ROI calculation, do negotiation, and in-service training.
• To conduct market research (competitor, customer behavior, etc.) and draw marketing plan.
• To maintain relationship with existing customer.
• Act as a consultant for providing customer’s needs.
• Provided information and corresponds regularly to principals.
• Monitor payment collection.
• Monitor disposable products inventory.
• Monitor product delivery from principals and to customers.
• Monitor product installation by Engineer Dept. and arrange necessary training for users.
• Carried out product registration to Ministry of Health.
• Performed any other related duties, as the management requires from time to time during performance of surgery in operating theatres or other operating/dissecting procedures in hospitals.
Di perusahaan sejenis, kadang mereka memisahkan antara spesialis produk dan staf sales/marketing. Tapi di sini, dari A sampai Z dikerjakan semua. Berat, tapi bikin aku dan teman-teman jadi pintar.
Apa Saja yang Aku Pelajari?
a. Teknis: Tentunya belajar produk, aplikasinya dan perawatan mesinnnya. Ini mesti dikuasai dengan baik, karena semua alat yang aku handle berhubungan dengan nyawa pasien!
b. Interpersonal skill: Belajar bicara dengan orang lain, belajar memperkenalkan diri kepada orang baru (yaitu calon klien), menenangkan klien yang emosi, dan lain-lain.
c. Koordinasi: dengan teman satu tim kalau sedang ada pameran atau proyek atau pengiriman barang, dengan pihak RS saat mau presentasi/demo/ workshop.
d. Manajemen waktu: harus bisa membagi waktu antara pekerjaan luar kantor dan dalam kantor, belum lagi kalau mau traveling, perencanaan harus matang.
e. Pemecahan masalah: jarang sekali aku menemui masalah yang pemecahannya sama.
f. Belajar soal sales: mulai dari mengetahui cara ice breaking saat pertama kali ketemu calon klien, sampai close the deal. Untungnya kantorku itu mengadakan internal training dengan mengundang pembicara dan pengajar. Yang aku ingat ada singkatan AIDA, yaitu Attention-Interest-Desire-Action, dalam proses penjualan.
g. Prosedur tender: untuk RS pemerintah, memang waktunya lama, 1 tahunan.
Yang Unik-unik
a. Wooh, kapan lagi bisa kerja sambil jalan-jalan? Berhubung aku menangani wilayah Indonesia, jadi mesti mendatangi RS untuk promosi, presentasi, demo. Lalu untuk training produk, biasanya di luar negeri. Kebetulan kantor pusat kami di Kuala Lumpur, dan ada cabang di Singapura. Kadang staf dari tiga kantor melakukan joined training atau internal training.
Salah satu principal (pihak yang memproduksi alat) dari USA selalu menyelenggarakan training tiap tahun, dan empat kali aku dikirim, sampai bosan (karena materi tidak banyak berubah dan waktunya cukup lama 7-10 hari).
Perlu dicatat bahwa ada ikatan dinas kalau kita dikirim training ke luar negeri. Di awal bekerja, aku diikat selama dua tahun.
Saking seringnya traveling, jadi kasih aku ide membuat blog khusus catatan perjalananku.
b. Menemani dokter ikut operasi saat harus mendemonstrasikan alat. Kalau presentasi aja, dokter jarang mau percaya. Makanya bela-belain ikut operasi bedah saraf, yang paling cepat itu 3 jam, dan rekorku paling lama 12 jam saat operasi tumor otak. Belum lagi mesti melihat kasus-kasus yang unik.
Ini juga memberikan aku ide untuk menulis blog tentang otak.
c. Memberi training kepada perawat dan dokter tentang penggunaan alat.
Nah, itu dia seluk beluk pekerjaanku. Dapat aku pastikan, ada yang eneg lihat tu foto otak, lol.










waduh… horor lagi nih… apalagi yang berhubungan dengan otak…. hiiiiii seyeeeem…. yang waktu itu aja 3 hari gak bisa makan… yang ini mungkin 7 hari kali…ha ha ha ha… makasih dah bikin aku kuyus dan langsing (baca=langsung..) ha ha hahahaha …
pertamaaaaax yah…
hehehehe seneng liat foto2 pas jalan2nya mbaak…kereeeeen…..
mb..gak ngeri yah waktu pertamakali liat kepala org di buka trus diiris2 dalemnya..
hiii….sama kayak mb nitta kl aku yg liat gituan pasti gak mau makan seminggu, hehehe…
@ Mbak Nitta: abis lihat otak, kan jalan2, trus makan2 lagi, nah…kan gemuk lagi, hahahaha
@ Mbak Audy: iya, mbak seru bgt. dapat pengalaman baru kalau lagi traveling.