Perjalanan ke Hanoi, 6-12 September 2009
Cerita rinciannya ada di Blogspot.
Sesuai jadwal yang sudah direncanakan sejak dua bulan lalu, akhirnya aku berangkat menemani customerku pergi untuk training ke Hanoi, Vietnam tgl. 6 September 2009.
Dengan pedenya aku bikin agenda untuk pergi training saat bulan puasa. Yah, tak apalah berpuasa di negeri orang. Kan masih di area Asia Tenggara. Beberapa tahun lalu pun aku sempat mengawali puasa di Kuala Lumpur, walau cuma tiga hari. Ada customerku yang menolak untuk pergi saat Ramadhan karena dia merasa akan mengganggu ibadah puasanya.
Hmmm, setelah beberapa hari di sana, memang aku merasa kurang nyaman melakukan perjalanan training di bulan Ramadhan dan bersamaan di bulan September. Karena ternyata udaranya panas sekali, terik dan kering. Bikin kita lemas. Selain itu, rugi rasanya tidak bisa menikmati makanan yang disajikan di pesawat, hehehe….. Kata Prof. Giang, wakil direktur RS Viet Duc, udaranya akan lebih baik di bulan November.
Berangkat tgl. 6 September, penerbangan yang terbilang pagi, pukul 06.15 WIB dengan SQ, itu pun masih ada penerbangan yang lebih pagi, pada pkl. 05.00 WIB. Aku sudah stand by di Bandara Soetta pkl. 04.15 WIB.
Dari Jakarta, kami ke Singapore dulu, transit 1,5 jam lalu berangkat lagi ke Hanoi. Sayangnya pesawat kami sempat rusak, jadi kami harus berganti pesawat. Penerbangan pun tertunda selama 3 jam. Untungnya SQ menyediakan makanan dan minuman untuk penumpang sambil menunggu pesawat pengganti siap. Aku pun harus memberi kabar ke Hanoi Horison Hotel tempat kami menginap kalau kami akan terlambat sampai, karena mereka nanti menjemput kami dengan mobil hotel.
Udara
Udara di Hanoi saat kami datang sangatlah panas, udaranya kering dengan kelembaban yang tinggi. Ini menjadi cobaan bagi kami yang berpuasa. Kalau kami tak puasa, sudah pasti kami akan minum air yang banyak agar tidak dehidrasi.
Di hari terakhir, kami dengar kabar akan ada badai. Jumat siang (11 Sept) turun hujan sampai hari Sabtu (12 Sept) kami sampai di bandara Hanoi.
Karena udaranya panas, kami perhatikan banyak sekali cewek-cewek yang mengenakan celana pendek.
Makanan
Senangnya setelah tahu kalau hotel kami punya menu khusus untuk sahur. Kita tinggal pesan mau jam berapa makanan diantar. Kami minta diantar pkl. 3.30 pagi, walau kadang kami sendiri suka ketiduran saat makanan diantar.
Semalam sebelum berangkat, aku browsing internet untuk mencari informasi makanan halal yang ada di Hanoi. Syukurlah dapat beberapa nama restoran. Kami makan di Nisa Restaurant, makanan Malaysia, dari segi rasa, masih kurang mantap.
Lalu kami sempat makan di KFC. Tempat makan favorit kami ya di dekat Danau, disitu ada satu bangunan. Di lantai bawah ada kafe, menyediakan makanan ala Eropa, juga dengan cake dan minuman kopinya yang khas, kita bisa makan sambil menikmati pemandangan danau. Di lantai atasnya ada restoran khas makanan Vietnam yang juga menyajikan music tradisional secara live.
Oh ya, di sebelahnya ada warung es krim. Rasanya enak, dan harganya super murah. Antara VND 3,500-8,500. Sayang kami cuma tahu mengatakan rasa coklat, vanilla, dan taro.
Di Hanoi banyak sekali kafe-kafe untuk makan dan bersantai, mungkin ini pengaruh Perancis yang ada.
Biaya paling murah tentunya saat makan di KFC, sedangkan yang paling mahal adalah saat farewell dinner dengan tim tuan rumah di sebuah restoran Jepang. Total yang hadir ada 15 orang, dengan biaya USD 432 atau VND 8,742,000! Capek deh hitung uangnya pas kami bayar.
Uang
Mata uang Vietnam adalah Dong, atau kode internasionalnya VND. Kurs USD saat kami datang berkisar antara 17,270 – 18,300 tergantung tempat di mana kamu menukar uangnya, ada yang tempat resmi, ada yang tidak resmi. Kalo yang tidak resmi itu misalnya, di toko souvenir, toko emas, ataupun individual. Yah, mesti hati-hati lah, walau mereka kasih rate yang bagus.
Yang bikin sebel adalah di sana mereka tidak menerima Rupiah! Padahal aku bawa uang Rp 2 juta untuk ditukarkan! Aku pikir aku akan coba menukarnya kembali di hotel, ternyata tak laku juga. Untung masih ada uang pembayaran tiket istri customerku dalam USD yang bisa aku gunakan. Orang Vietnam tetap lebih suka bertransaksi dengan USD karena kalau dalam VND nolnya banyak sekali, itu yang petugas hotel bilang. Ini terbukti saat aku minta struk pembayaran makan malam di resto Jepang. Karena lebar kertas struk tidak mencukupi angka harga makanan yang kami makan, akhirnya mereka bikin bon manual dengan tulis tangan.
Suasana Kota
- Kesannya seperti kota tua. Ada bagian yang mirip Menteng, ada yang mirip daerah Kota di Jakarta, ada yang mirip daerah Kesawan di Medan. Kami tidak melihat bangunan pencakar langit, mungkin karena memang kami tidak ke daerah perbisnisannya.
- Ada jalan yang di sisinya ditumbuhi pohon-pohon besar, jadi terasa lebih adem.
- Banyak bangunan tua mirip bangunan di Eropa.
- Banyak kendaraan roda dua, sama seperti di Jakarta sekarang ini.
- Kami banyak menjumpai mobil-mobil mewah juga, cuma kotor karena tak dicuci.
- Menurut Prof. Giang, harga Honda Accord City dua tahun lalu sekitar USD 70,000, sedangkan di Indonesia sekitar USD 40,000. Kalau di Kamboja bisa lebih murah lagi, USD 24,000 tapi tidak mungkin dibawa ke Vietnam karena pemerintah mereka akan mengenakan pajak yang tinggi.
- Kami berhasil mengunjungi dua pusat perbelanjaan di Hanoi, Vincom Mall dan Tran Tienh Mall. Tak seberapa jika dibanding mall-mall di Jakarta.
- Taxi, rekomendasi dari seorang lokal adalah menggunakan taxi Manlinh karena lebih aman. Ada beberapa jenis taxi dilihat dari ukurannya. Yang paling kecil adalah taxi mini sejenis KIA Visto, lalu sedan, yang paling besar adalah Kijang Innova. Tarifnya beda sedikit satu sama lain. Untuk kami, akan lebih ekonomis menggunakan Innova. Customerku sempat ditipu dengan argo kuda waktu dia jalan-jalan sendiri.
Tempat Jalan-Jalan
Di Hanoi banyak danau-danau kecil. Danau terdekat dengan rumah sakit tempat training adalah Hoan Kiem Lake. Di daerah situ banyak sekali yang bisa kita lihat. Pertama, di tengah danau ada pulau kecil yang berisi mumi kura-kura besar yang ada hubungannya dengan sebuah legenda setempat. Selain itu, kata Prof. Giang, ada kura-kura yang tinggal di danau tersebut. Pemerintah setempat mengeluarkan biaya besar untuk menyewa konsultan dari Jerman untuk membersihkan danau itu.
Di antara kesibukan training, kami sempat jalan-jalan ke Old Quarter (yang tak jauh dari danau), Temple of Literature, Military Museum, dan menonton pertunjukan Water Puppet.
Sebenarnya ada beberapa tempat lagi yang bisa dikunjungi, tapi dengan udara yang seperti itu, kami tidak sanggup. Masih ada Moseleum, Silk Village, dan mesjid yang cuma ada satu-satunya di Hanoi.
Untuk oleh-oleh, kamu bisa cari di daerah Old Quarter dan toko sekitar Hoan Kiem Lake. Oleh-oleh standard ya gantungan kunci dan tempelan kulkas, harga berkisar VND 5,000-10,000. Bisa pilih juga lukisan yang disulam tangan (VND 100,000), beauty mirror (VND 15,000), dompet recehan (VND 35,000), topi dengan lambang bintang bendera Vietnam (USD 18,000-20,000), kaos dengan lambang sama, selendang silk.
Aku belikan baju tradisional Vietnam untuk keponakan perempuanku untuk dipakai berlebaran karena modelnya mirip dengan baju muslim (VND 180,000).
Saat pulang, penerbangan Hanoi-Singapore pkl. 13.30 waktu setempat (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Hanoi), kami transit lebih lama di Changi. Penerbangan Singapore-Jakarta harusnya pkl. 18.45, tapi kami pindahkan ke pukul 21.20 waktu setempat.






