Saat itu aku sedang bertugas di luar kota (aku lupa di mana) tapi yang pasti sekitar bulan lalu, akhir Juni 2011. Seperti biasa aku ngobrol dengan Hakim di telepon. Satu berkah yang aku terima di bulan itu, adalah betapa banyak rejeki yang aku terima, mengalir dari berbagai arah (kantor, bisnis baruku, tanah keluarga, dll). Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan kepada Allah SWT.
Salah satu faktor pendorong aku membicarakan topik menikah dengan Hakim adalah karena aku dapatkan rejeki tersebut, di mana salah satu challenge untuk kami bersatu adalah finansial. Ternyata, dari sisi Hakim pun saat ini dia menerima banyak rejeki pula. Kita langsung sepakat untuk melangsungkan pernikahan segera. Aku minta dia cari tiket pesawat secepatnya, “Check out the ticket price online and pick a date”
Hakim sangat ingin mengalami berpuasa di Indonesia, bulan Ramadhan kan tiba sebentar lagi. Aku berikan alternatif untuk datang sebelum Idul Fitri, sehingga tidak saja dia bisa menjalankan ibadah puasa, tetapi juga merayakan Idul Fitri.
Sebelumnya aku minta dia cek harga tiket pesawat dahulu.
Beberapa hari kemudian dia SMS, ada tiket seharga USD 1,012…. Wow, itu murah banget! Mengingat beberapa tahun lalu, harga tiket bisa mencapai USD 1,600 – 1,800 (PP)… Tapi karena Hakim belum terima paycheck, akhirnya pembelian tiket pesawat tertunda seminggu, dan dibelilah tiket tersebut beberapa hari lalu saat aku tugas di Bali untuk workshop lap.colorectal BITDEC.
Ya Allah, satu babak penting dalam hidupku akan menjadi kenyataan. Saatnya persiapan untuk pernikahan. Banyak hal yang perlu disiapkan.
Pelajaran yang bisa aku petik, adalah jangan pernah hilang keyakinan (faith dan believe), jangan pernah hilang kesabaran, jangan berhenti berdoa, waktunya akan datang untuk kita.




