Mudik ke Medan, May 21-23
Tanggal ini sudah aku incar sejak dua bulan sebelumnya, supaya aku bisa mengajukan cuti jauh jauh hari. Tadinya aku saja yang akan pergi ke Medan, karena tujuan ke Medan bukan buat jalan-jalan kok, tapi ada beberapa urusan pribadi yang perlu diselesaikan.
Tapiiiii…… Aku, sebagai bude yang iseng, aku godain keponakanku yang besar (Rara). Aku bilang kalau nanti aku akan ajak ibunya pergi, karena anak ini terlalu manja dengan ibunya. Ibunya juga menanggapi ajakanku di depan anaknya ini. Lalu muncul ide untuk ajak mereka pergi ke Medan beneran. Soalnya Rara ke Medan saat dia berumur 16 bulan, yaitu ketika bapakku meninggal dunia. Nah, sekarang kan sudah ada Eza, anak kedua adikku. Mumpung Eyang masih ada, biar dia bisa lihat kedua cicitnya ini. Sayang, suami adikku tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadilah aku cari tiket pesawat online yang bisa dibeli dengan kartu kredit (ngutang ni yeee….).
Saat itu Air Asia ada promo harga tiket, tapi sayang di tanggal yang aku inginkan, harga terlalu mahal, untungnya untuk tanggal pulang kami bisa mendapatkan tiket promo, walaupun waktu terbangnya siang. Padahal diharapkan kami bisa tinggal sedikit lebih lama di Medan. Total biaya tiket sekitar Rp 2,5 jutaan.
Hari Pertama, 21 Mei 2009
Kami berangkat dari Ciledug setelah Shubuh. Aku dan Rara dapat tempat duduk di paling depan, sayang adikku tidak bisa satu baris, karena bayi tidak boleh duduk paling depan. Akhirnya kami terpisah satu baris. Rara tidak betah duduk diam, akhirnya aku harus muter otak untuk ajak dia main. Malah dia sering mendatangi tempat duduk ibunya. Kalau Eza sih anteng aja dia di pengalaman pertamanya naik pesawat. Aku bertukar tempat duduk, pindah ke belakang supaya adikku bisa duduk dengan Rara. Sementara itu aku kebagian menggendong Eza.
Kami dijemput oleh abang ipar adikku beserta istri dan anaknya. Lalu kami diantar ke Jl. Garuda, rumah Eyang. Sesampai di sana, Eyang keluar dengan naik kursi roda yang didorong Tiwi, adik sepupuku.
Siangnya, kami ke rumah adik bapak yang rumahnya persis di sebelah rumah Eyang. Tanteku habis menjalani operasi pengangkatan payudara, jadi masih dalam pemulihan. Kami makan siang di sana. Lalu kami cek rumah bapak yang sudah kosong. Penyewa rumah kami itu mangkir. Aku cek apa saja yang perlu diperbaiki.
Sore, kami pergi ke rumah kakak ibuku. Rara senang di sana karena ada burung kakak tua. Kami pamit setelah sholat Maghrib. Sebelum pulang, kami singgah di warung kerang rebus, tempat favorit alm.bapak, letaknya di samping RS Advent. Kenyang juga, makan 2 piring kerang rebus dan 1 porsi kwetiau kepiting. Tak lupa kami beli beberapa bungkus untuk orang rumah.
Sebelum tidur, Rara ngamuk dulu karena dia minta pulang ke Jakarta, mau tidur di kamar ibunya. Uhhh, ada ada saja.
Hari Kedua, 22 Mei 2009
Setelah kemarin membuat daftar apa saja yang harus dibeli di toko bangunan, rencana hari ini adalah pergi ke kantor Telkom dan membayar tunggakan telepon, pergi ke toko bangunan (beli gembok, kunci pintu, lampu, dll), ke supermarket beli makanan, lalu ke makam bapak. Tidak lupa sarapan dulu di warung depan dengan Lontong Medan, nyam nyam.
Sampai di rumah Eyang, aku dan adik bersiap-siap ke makam bapak. Anak-anak dititipkan ke tante dan sepupu. Memang tanah makam bapak turun, mesti tambah tanah. Sayangnya, tukang jual tanah dekat rumah tutup karena waktunya sholat Jumat.
Sore ini kami dijemput abang ipar adikku buat jalan-jalan. Kami makan Mie Yamin Mahmud, pesan sate kerang untuk dibawa ke Jakarta, sholat maghrib di mesjid depan. Lalu kami mencari-cari Pie Durian, dijual di Durian House dekat rumah Carrefour. Wah, ternyata durian tidak musim, jadi mereka tidak buat Pie Durian. Bahkan cari durian aja susah lho, yang kecil aja dihargai 100 ribu!
Kami singgah sebentar di sebuah tempat makan dekat situ, beli Es Campur Medan. Kami juga dibawa ke rumah abang sebentar. Sesampai di rumah Eyang, Rara mengamuk lagi, dia tak mau turun dari mobil, dan minta pulang ke Jakarta. Oh oh….. Adikku memarahi dia lagi.
Hari Ketiga, 23 Mei 2009
Siap-siap pulang. Aku ambil pesanan Bolu Meranti. Kami dijemput abang. Singgah dulu di Mahmud untuk ambil pesanan sate kerang.
Eza sempat tidak nyaman saat kamu mau landing di Jakarta. Mungkin kupingnya sakit karena tekanan udara.
Karena kami naik Air Asia, jadi kami landing di Terminal 3, terminal yang baru. Hmmm….OK juga lah. Cuma tidak ada porter di sana.

Target perjalanan ke Medan terpenuhi 80%. Sisanya aku tidak puas karena belum dapat penyewa baru. Yah, mudah-mudahan segera kami dapatkan. Aku masih penasaran dengan penyewa yang mangkir itu. Aku telelpon dan SMS minta ketemu saat aku di Medan, tapi tidak ada balasan.






