Waktu kamu jauh dari rumah, berada di negeri orang, maka saat pulang kembali adalah saat yang ditunggu-tunggu. Seharusnya saat itu kamu alami dengan lancar dengan hati senang. Tapi apa yang terjadi dengan diriku malam ini?
Aku tidak tahu mesti marah sama siapa: ke Vice President-ku yang sedang melakukan cost cutting, ataukah ke AirAsia yang pelayanannya mengecewakan.

Air Asia
AirAsia sudah bikin aku kecewa saat berangkat, ditambah kejadian malam ini, bikin aku makin bete dan emosi!
Apa penyebabnya?
1. Peraturan yang tidak dilaksanakan secara standard
Ini berkenaan dengan kelebihan bagasi. Waktu aku berangkat dari Jakarta, bagasiku beratnya 16.8 KG. Saat aku check-in di Bangkok, bagasiku 22.7 KG karena ada tambahan folder materi training dan beberapa brosur. Belanjaanku? Wah, aku tidak belanja gila-gilaan kali ini, hanya beli titipan ibu kostku, kado buat teman yang mau nikah, dan beberapa macam makanan kering saja.
Nah, staf AirAsia di Bangkok bilang limit bagasi 15 KG, jadi aku kelebihan 8 KG, tapi mereka akan charge 7 KG saja (B165/KG). Aku bilang, di Jakarta bebanku waktu itu sudah lewat 15KG tapi tidak ada masalah, staf itu bilang kalau di sini itu masalah (Shit !). Harusnya kalau punya peraturan, ya dilaksanakan dong di manapun negara AirAsia beroperasi. Masa’ beda-beda gitu?
Untung ada ATM di situ, soalnya pas mau tukar Rupiah ke Baht, kok rate-nya tinggi banget, sekitar Rp 588 untuk Baht 1. Padahal waktu berangkat, aku beli Baht di Jakarta nilai tukarnya Baht 1 = Rp 340 saja.
2. Penimbangan tas tangan saat boarding
Nah, ini yang bikin reseh banget! Waktu penumpang akan memasuki boarding room, staf AirAsia minta kita untuk menimbang tas tentengan kita. Yang beratnya lebih dari 7KG akan kena overweight charge. (Apaaaaa??? Lagiii???)
Emosiku mulai tinggi. Tasku beratnya 14 KG isinya laptop dan charger, mukenah, materi training, agenda, dll, belum lagi tas plastik yang aku tenteng, tapi itu tidak ditimbang. Berarti aku mesti bayar lagi Baht 1,155 untuk 7KG. Eh, si staf ngomong lagi, katanya tas ini terlalu berat (14KG), takutnya rak penyimpanan tidak kuat menampungnya. So….. dia bilang aku mesti check-in tas itu ke bagasi. Berapa jadinya kelebihan berat tasku? Ya 14 kilo! Bukan 7 kilo seperti di awal. Aku keberatan menyimpan tas itu di bagasi karena ada laptop dan tidak ada kunci gemboknya. Staf itu bilang keluarkan aja laptopku, terus aku simpan di mana dong laptopnya? Masa’ ditenteng begitu aja? Untung plastik makanan didobel, jadi nenteng laptop pake plastik kresek!
Setelah laptop dikeluarkan, berat tas jadi 12 kg, so yang harus aku bayar adalah Baht 1,980. Ihhhhhh…………. mana aku bawa cash segitu banyak? Orang udah mau pulang ke Jakarta kok. Aku keluarkan sisa uang yang aku punya Baht 500 plus Rp 450,000. Secara sudah waktunya naik pesawat dan mereka tidak sempat charge kartu kreditku (syukurnya gak di-charge, orang udah over limit gitu, lol), akhirnya mereka cuma charge 3 KG, setara dengan Baht 495.
3. Ketidaktersediaan minuman dan makanan
Lagi-lagi soal makanan dan minuman. Pada hari keberangkatan ke Bangkok, 15 Januari 2009, aku juga sedikit kecewa. Ekspektasiku terlalu tinggi ternyata. Karena penerbangan ke Bangkok biasanya memakan waktu 3 jam, aku berharap saat terbang nanti akan disuguhkan makanan, walau sederhana. Ternyata tidak! Mau tidak mau, aku mesti beli air minum, karena pastinya nanti kehausan.
Saat pulang, karena sebelumnya aku sudah makan malam, jadi tidak perlu beli makanan di pesawat, tapi tetap mesti beli minum. Haus tahu…. Perjalanan 3 jam 25 menit. Maunya NuTea, eh udah abis, jadinya beli Pulpy Orange pake es dan Kacang Madu. Penumpang yang duduk di sebelahku (orang Inggris) minta air putih, pramugari bilang sudah tidak ada stok. Ngomel deh penumpang itu. Masa’ basic drink aja gak punya? Gitu tanyanya. Bahkan budget airline di Eropa aja ada, at least pramugarinya menawarkan air putih lah. Pramugari AirAsia kami menawarkan gimana kalau minum air panas (yang mereka punya di termos) ditambah dengan es. “Ah, never mind” kata mister itu il-feel.
Pengen rasanya besok SMS ke supervisorku soal kejadian ini. Biar jadi pertimbangan. Kalau jarak penerbangannya dekat, maksimal 2 jam, AirAsia masih bisa ditolerir. Tapi kalau sudah lebih dari 3 jam, mending pakai airline lain aja. Toh ujung-ujungnya uang yang keluar juga jadi sama: untuk kelebihan beban bagasi dan makanan dalam pesawat.
Update 22 Januari 2009: beberapa hari lalu aku tanya ke Business Support Coordinator-ku, apa kalau beli makan dan minum di AirAsia bisa di-claim. Katanya tidak bisa, wehhhhh, sial banget sih? Wong air minum aja gak bisa bawa ke kabin karena kita tidak boleh bawa cairan yang lebih dari 100cc. Saat di gerbang pemeriksaan, kalau di dalam tas kita ada cairan, pasti disuruh minum (kalau itu berupa minuman) atau dibuang/ditinggalkan di gerbang.





wow.. sebagian pengalaman yang menyebalkan dari banyak pengalaman yang menyenangkan kan mir ? tetap berfikir positif, jangan mau dibebani dengan fikiran negatif…
Cheers
Iya ya Mas…. Saat itu aku biarkan pikiran negatif merasuk. Harusnya tetap bersyukur untuk hal-hal baik lainnya. Misalnya saat aku ketemu dengan dua orang TKI yang kesasar di bandara. Nasibku masih lebih baik karena bisa pulang ke tanah air.
Aku juga ditegur oleh My Poohbear karena harusnya bersyukur bisa pulang selamat ke rumah.
whoaaaaaa………. kok gitu sih, dah cape, dikerjain pula ama Air Asia… ayo mbak.. ditembak keywordnya biar di no 1 SE…
Mbak…, Air Asia emang begitu peraturannya. Mungkin marahnya sama VP-nya aja :p
Tadi aku juga barusan browsing tiket murah. Rata-rata budget flight begitu, tas kabin ditimbang, ga ada makanan n minuman, bagasi terbatas (bahkan kudu nambah bayar lagi kalo mo pake bagasi). Bahkan ada yang airport taxnya (balik ke indo) ga dimasukin juga huhuhu…
Cheers, mbak